Masuk

Ingat Saya

Kalau Syaithan Di Belenggu, Lantas Ini Ulah Siapa?

Kalau Syaithan Di Belenggu, Lantas Ini Ulah Siapa?

Salah satu hadits rasulullah SAW menjelaskan “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).
Penulis tidak akan membahas point pertama dan kedua. Tapi penulis lebih fokus pada point yang ke tiga. “Setan Dibelenggu”. Lho.. kalau syaithan di belenggu terus kenapa di bulan ramadhan masih saja terjadi pertengakaran antara suami dan istri, perlawanan anak terhadap orang tua, sanggupnya sebagian orang-orang kaya membiarkan kaum miskin menderita, pemberitaan media tentang kekerasan seakan tak berujung? kenapa bisa demikian? bukankah itu semua termasuk perbuatan hasil dari godaan syaithan?
Iya benar, Syaithan memang di belenggu dan status hadits di atas shahih yang diriwayatkan oleh dua perawi yang masyhur dan dapat dipercaya (Bukhari dan Muslim). Lantas kenapa terjadi demikian ?
Sahabat.. Jangan lupa bahwa salah satu musuh terbesar kita dalam hidup ini adalah hawa nafsu kita sendiri. Imam Al Ghazali dalam banyak kesempatan sering mengingatkan hal ini pada muridnya. Misalnya, suatu hari saat Imam Al Ghazali berkumpul dengan muridnya. Lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan. salah satu pertanyaannya adalah “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, lautan dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Al Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka. (Imam Al Ghazali).
Dilain kesempatan imam Al Ghazali juga menyampaikan bahwa “Yang paling besar di bumi ini bukanlah gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka.” (Imam Al Ghazali)
Selama puasa kita menahan makan dan minum sejak imsyak sampai berbuka. Tidak ada keistimewaan bagi orang kaya atau dispensasi buat fakir miskin. Tak ada pembedaan antara para pemegang kekuasaan dengan rakyat jelata. Semua sama-sama menahankan lapar dan haus. Sehingga yang kaya turut merasakan bagaimana rasanya penderitaan yang selama ini dirasakan kaum fakir dan miskin.
Maka ramadhan sejatinya adalah mendidik kita menjadi orang yang peduli terhadap sesama sebagai makhluk sosial, menumbuhkan rasa berbagi kepada fakir miskin di hati yang kaya. Gemar menolong dan memudahkan urusan rakyat biasa. Hukum berjalan dengan adil tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Namun yang demikian takkan bisa kita capai bila kita belum bisa mengendalikan hawa nafsu kita. Berikut ini beberapa tifs yang diajarkan oleh imam Al Ghazali dalam mengendalikan hawa nafsu :
1. Takhalli. Maksudnya mengosongkan atau membuang atau menyucikan hati dari sifat-sifat yang keji. Tahap ini kita mesti melawan dan membuang secara paksa dan terus menerus semua kehendak nafsu jahat dan yang dilarang oleh Allah. Selagi kita tidak membenci, memusuhi dan membuang kehendak-kehendak tersebut jauh-jauh secara paksa dan terus menerus, maka nafsu jahat itu akan sentiasa menguasai dan memperhambakan kita. Apabila nafsu jahat dibiarkan menguasai kita, iman tidak akan ada tempat di hati. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah tetapi akan menyembah hawa nafsunya. Oleh itu, usaha melawan hawa nafsu jangan diambil ringan. Ia adalah satu jihad yang besar.
2. Tahalli. Maksudnya mengisi atau menghiasi dengan sifat-sifat terpuji. Setelah kita mujahadah mengosongkan hati dari sifat-sifat mazmumah atau sifat-sifat keji, segera pula kita hiasi hati kita itu dengan sifat-sifat mahmudah atau terpuji.
3. Tajalli. Maksudnya terasa kebesaran dan kehebatan Allah atau keadaan senantiasa rasa bertuhan. Ia adalah sebagai hasil dari mujahadah. Selepas peringkat takhalli dan tahalli, kita akan memperolehi tajalli. Satu perasaan yang datang sendiri tanpa perlu diusahakan lagi. Sulit untuk menggambarkannya tapi intinya pada tahap ini kita merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Tuhan. Tuhan senantiasa menyertai kita kemana pun melangkah. Tidak ada kesusahan dalam hidup. Baik maupun buruk dirasakan sebagai hadiah dari Tuhan. Dunia terasa bagaikan Syurga. Inilah kebahagiaan yang sejati dan abadi.
Semoga ramadhan ini mendidik kita menjadi pribadi yang peduli terhadap orang lain, peduli pada bangsa dan negara, peduli juga pada agama.

ulfah
Dengan