Masuk

Ingat Saya

Belajar Jihad dari Dalihan Natolu

Belajar Jihad dari Dalihan Natolu

Hari ini merupakan hari kedua dalam bulan Ramadhan 1437 H. Sudahkah kita memperbanyak amal shaleh? Jihad apa saja yang sudah kita targetkan untuk menikmati bulan yang penuh kemuliaan ini. Kali ini saya akan berbagi mengenai tradisi lokal di kampung saya. Belajar kebaikan dari salah satu adat batak Sumatera Utara.

Pengertian Dalihan Na Tolu secara literal adalah satuan tungku tempat memasak yang terdiri dari tiga batu. Pada zamannya, kebiasaan masyarakat Batak memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku itu, dalam bahasa Batak disebut dalihan. Falsafah Dalihan Na Tolu dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. Tungku merupakan bagian peralatan rumah yang sangat vital karena digunakan untuk memasak makanan dan minuman yang terkait dengan kebutuhan untuk hidup keluarga. Dalam prakteknya, kalau memasak di atas Dalihan Na Tolu, kadang-kadang ada ketimpangan karena bentuk batu ataupun bentuk periuk yang ukurannya tidak sama persis. Maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal agar posisinya dapat sejajar. Dalam bahasa Batak, benda itu disebut sihal-sihal. Maka kemudian muncul istilah falsafah dalihan na tolu paopat sihal-sihal.

Dalihan Na Tolu diuraikan dalam tiga tatanan adat: Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Itulah tatanan adat Batak yang cukup adil dan menjadi pedoman dalam kehidupan sosial sejak lahir sampai meninggal dunia. Ketiga-tiganya saling berhubungan menurut pola tertentu, sehingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Setiap orang Batak akan menduduki semua posisi dalam konteksnya masing-masing. Ada saatnya menjadi hula-hula, di saat lain bisa menjadi boru atau dongan tubu. Semua posisi ini memiliki kewajiban dan hak masing-masing yang harus dijalankan dengan senang hati, bahkan sebelum diminta.
Kentalnya rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang terdapat dalam masyarakat Dalihan na Tolu menjadikan salah satu faktor terciptanya persaudaraan dan keakraban, termasuk dalam setiap pelaksanaan acara adat, hari-hari besar Islam dan juga acara yang bersifat kenegaraan, seperti pemilihan kepala daerah. Pasalnya, kalaulah terjadi perselihan di antara dua orang atau lebih, sekalipun berbeda kampung, berbeda dukungan, berbeda partai dan lainnya, biasanya akan cepat terselesaikan disebabkan oleh adanya hubungan kekeluargaan di antara mereka menurut konsep Dalihan na Tolu. Bagaimana mungkin bisa terjadi permusuhan kalau lawan perselisihannya adalah hula-hulanya, anak borunya atau dongan tubunya.

Menarik bukan?, sesungguhnya semua kita bersaudara adalah hal yang patut kita ambil inti sarinya dari Dalihan Natolu. Indonesia belum dikatakan sebagai wilyah damai adalah karena belum mengamalkan adat orang Batak. Tidak lahir dari satu rahim yang sama tidak di anggap saudara, sehingga rasa kasih sayang antar sesama saudara belum terjalin.

Sebaiknya hal baik dari setiap tradisi d Indonesia haruslah kita junjung tinggi agar tradisi lokal yang menjadi kekayaan Indonesia dapat kita lestarikan bersama. Sudah saatnya jihad-jihad kita terhadap agama tidaklah kita paradigmakan sebagai tindakan negatif melainkan tindakan-tindakan positif.

Marilah sama-sama menebar kebajikan, di mulai dari diri sendiri untuk membuat negara kita menjadi wilayah yang senantiasa damai.

ulfah
Dengan