Masuk

Ingat Saya

Belajar Toleransi Dari Madinah

Dalam lintas sejarah masyarakat Madinah pada masa nabi Muhammad saw. Terbagi beberapa tipe masyarakat diwaktu itu, yang berpecah belah menjadi beberapa kabilah yang tidak mampu menciptakan masyarakat yang tenang dan hidup berdampingan. Kondisi masyrakat seperti ini juga dapat di telusuri pada priode kehidupan Nbi semasa di Mekkah. Di tengah masyarakat jahiliah Mekkah dan begitu pula halnya masyarakat Yahudi di Madinah, masing-masing mereka mengadakan berbagai kemelut di tengah-tengah masyarakat mereka sendiri. Masyarakat hidup secara kelompok-kelompok etnis, yang masing-masing saling membanggakan etnisnya masing-masing, serta menganggap rendah etnis yang lainnya sehingga tak berjalan maksimal sebagaimana seharusnya.

Kedua tipe masyarakat ini sebenarnya telah memiliki nilai ajaran agama, juga struktur sejarah panjang peradaban dan budaya, kendati demikian mereka tidak mampu menciptkan kerukunan beragama dalam pembinaan masyarakat yang utuh, oleh karena itu agama merupakan suatu solusi untuk menyatukan masyarakat bila mana masyarakat itu memiliki kesadaran tentang eksistensi agamanya sebagai penuntun dalam kehidupannya di tengah-tengah masyarakat yang berlandaskan dalil-dalil ketuhanan yang tak mungkin menyesatkan.

Nilai dari suatu ajaran agama akan dapat membangun suatu masyarakat jika para penganutnya benar-benar memahami makna ajaran agamanya. Islam sebagai agama yang memiliki ajaran yang lengkap senantiasa memberikan suatu tutunan kepada pengnutnya agar mampu menjalankan suatu kerukunan umat beragama selama tidak berhubungan dengan masalah aqidah. Hal ini dijelaskan dalam Alquran surat Ali Imran ayat 64 yang artinya:

Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Berdasarkan ayat di atas menunjukkan bahwa, Islam selalu mengajak manusia agar masuk kepada ajaran Islam dengan tidak melalui jalan paksaan, karena Islam dalam doktrinnya senantiasa memberikan kebebasan kepada siapapun untuk menjalankan tuntunan agamanya, sehingga Islam dengan waktu yang singkat lewat Nabi Muhammad saw. mampu menata suatu masyarakat yang hidup dengan rukun dan damai.

Sebagaiman diketahui bahwa Rasulullah saw. dalam membina masyarakat Madinah, telah meletakkan persamaan kedudukan di tengah-tengah masyarakat, hal ini dapat diperhatikan dalam piagam Madinah pasal 24 dan 25. Dalam pasal-pasal ini telah dinyatakan bagaimana kedudkan masing-masing penganut agama masyarakat, dengan tidak saling memberatkan antara satu golonggan agama dengan golongan penganut agama lainnya.

Kesan demikian merupakan unsur pembinaan masyarakat dalam rangka menata suatu masyarakat yang ideal lewat pemantapan kerukunan umat beragama, dan bukkan perpecahan.

Pada masa Nabi Muhammad Saw, bangsa yangg berpecah belah ini dapat dihimpun menjadi satu disekitar ajaran Islam dan bersatu dibawah kibaran panjinya. Berkat rahmat Allah swt, mereka lebih menjadi bersaudara satu sama lainnya dan bersatu padu dalam ikatan keagamaan yang diukung oleh faktor kepemimpinan, kelembutan dan kasih sayang sang Nabi. Sehingga merekapun muncul sebagai suat bangsa dengan satu komando yaitu Rasulullah saw. sendiri.

Ali Abdul Raziq berpendapat bahwa Ikatan yang ada pada masa Rasulullah saw ini dipandang dari sudut manapun sama sekali bukanlah ikatan politik, dan tidak pula memiliki pengertian yang membuatnya bisa di tunjuk sebagai suau negara atau suatu pemerintahan, ikatan ini selamanya merupakan ikatan keagamaan yang terlepas sama sekali dari unsur-unsur politis, suau ikatan iman dan mazhab keagamaan, dan bukan berdasarkan aliran kekuasaan. Walaupun banyak tokoh intelektual Islam yang tentunya berbeda pendapat dalam hal ini.

Dengan adanya ikatan keagamaan ditengah-tengah masyarakat akan terpancarlah suatu tatanan masyarakat yang komitmen masyarakatnya utuh dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan. Dengan ikatan itu pula masyarakat akan mengerti kewajibannya dari suatu masyarakat ditempat ia berada. Iaktan keagamaan itu akan senantiasa terikat dengan tata hukum yang berlaku dan sudah disepakati bersama.

Pembinaan suatu masyarakat identik dengan pembinaan kerukunan umat beragama, bilaman umat beragama dapat diciptakan di tengah-tengah masyarakat maka masyarakatpun akan dapat dibina. Dalam artian agama di jadikan sebagai tolak ukur dalam pembangunan masyarakat, di samping asek lainnya, seperti pembangunan di bidang ekonomi dan endidikan dan sekaligus mengembangkan kesadaran masyarakat dalam menghadai tanggung jawabnya.

Prinsip Rasulullah saw. Dalam meletakkan pembangunan masyarakat Madinah adalah prinsip kebersamaan, artinya Rasulullah saw. dalam membangun masyarakat yang berlainan agama dan etnis, didasarkan kepada kebebasan dalam melaksanakan setiap kegiatan selama tidak bertentangan dengan kondisi masyarakat yang ada, misalnya Rasulullah saw. Memberikan mereka kebebasan dalam mencari nafkah, ini merupakan suatu pembinaan masyarakat yang ada di Madinah kala itu.

Oleh karena itu, jika toleransi umat beragama sudah ada pada masa Rasulullah saw. mengapa kita sulit untuk melakukannya pada zaman sekarang ini? Bukankah Rasulullah merupakan contoh teladan yang baik bagi umatnya? Banyak aspek yang positif jika kita dapat menerima perbedaan sesama kita. Salah satunya dapat mencegah tindakan-tindakan terorisme dan radikalisme. Marilah kita bahu-membahu dalam menerapkan toleransi antar umat beragama agar dapat segera kita jadikan Indonesia sebagai wilayah perdamaian.

ulfah
Dengan