Masuk

Ingat Saya

Bukan Pesantren yang disalahkan namun Lembaga Keagamaan

Baru-baru ini BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) menetapkan 19 pesantren di Indonesia yang ajarannya mengajarkan kepada santrinya mengenai Radikalisme. Hal ini sontak menyulut emosi para petinggi pesantren yang notabene mengajarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dalam salah satu acara di TV one yang tayang pada Rabu, 10 Februari 2015 pukul 08.30-09.30 WIB yaitu acara “makna dan peristiwa” di moderatori oleh teuku Wisnu dan 3 Narasumber yaitu Ustad bachtiar Nasir selaku pemuka agama, Bapak Irfan Idris selaku Direktur Deradikalisasi BNPT dan Bapak Musthafa Nahrawardaya selaku pengamat terorisme ketiganya sepakat mengemukakan bahwa pesantren-pesantren yang dari hasil penelitian BNPT menjadi pesantren yang diketahui mengemukakan ajaran-ajaran radikalisme tidaklah layak dikatakan wadah tersebut sebagai pesantren. Karena sejatinya Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin membawa pesan damai bagi setiap pemeluknya. Alangkah indah jika disebut sebagai lembaga keagamaan.

Hal ini nampaknya lebih riil dari pada sebutan pesantren yang begitu banyak pesantren-pesantren di Indonesia yang masih dalam koridor ajaran Islam sesungguhnya. Oleh sebab itu, kembali peran generasi muda Indonesia yang saat ini dibutuhkan. Pesantren selaku lembaga pendidikan yang mendidik generasi muda Indonesia berdasarkan Islam haruslah lebih mawas diri.

Saya merasa bahwa pesantren menjadi korban dari aksi-aksi terorisme yang belakangan terjadi di Indonesia. Tugas para alumnus dan semua yang mencintai pesantren untuk kembali membersihkan namanya dari fitnah yang seperti ini. kami pemuda siap membantu dengan dakwah melalui tulisan yang tentunya dengan kontent yang positif… Insyalloh

ulfah
Dengan